Panduan dan Cara Budidaya Jahe Secara Organik

Cara Budidaya Jahe Secara Organik – Apakah Anda tertarik untuk membudidayakan jahe secara organik dan bebas dari bahan-bahan kimia? Budidaya jahe ternyata tidak sesulit yang Anda duga.

Selain memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, Anda juga dapat menggunakan hasil panen jahe Anda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti bumbu masak hingga pewarna kue.

Baca Juga : Klasifikasi Tanaman Kunyit

Karena Anda membudidayakannya secara organik di rumah, maka Anda bisa menjamin bahwa jahe hasil panen Anda sehat, bebas dari bahan kimia aktif, maupun residunya.

Ini dia langkah mudah dan cepat untuk membudidayakan jahe secara organik.

Menentukan lokasi yang tepat

Jahe tumbuh dengan baik di tempat yang terlindung dan tidak terpapar sinar matahari langsung. Namun, kultivar jahe tetap membutuhkan paparan sinar matahari selama 2-5 jam setiap harinya.

Selain itu, kultivar jahe juga dapat Anda tempatkan di tanah terbuka karena jahe membutuhkan jumlah air yang cukup banyak, yang mana dapat diperoleh dari air hujan.

Waktu untuk membudidayakan jahe

Selain lokasi, Anda juga harus memperhatikan waktu yang tepat untuk membudidayakan jahe.

Apabila Anda tinggal di negara dengan dua musim seperti di Indonesia, maka Anda dapat mulai menanam jahe 2-3 minggu sebelum musim hujan dimulai, yang mana berarti sekitar bulan Agustus.

Mempersiapkan tanah untuk budidaya jahe

Tanah yang baik untuk budidaya jahe adalah tanah lempung yang gembur, kaya akan nutrisi, serta lembab.

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan tanah mulsa yang kaya akan nutrisi, mampu menyimpan air dan mencegah tumbuhnya gulma di sekitar jahe. Tanah yang digunakan diatur agar memiliki pH yang sedikit asam, yaitu sekitar 5,5 -6,5.

Komposisi yang tepat untuk media jahe adalah campuran kompos dan tanah dengan perbandingan (8 : 2). Selain itu, Anda juga dapat menambahkan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan jahe.

Pertama-tama, Anda harus memangkas rumput yang ada di pekarangan Anda dengan menggunakan parang.

Setelahnya, Anda dapat membuat wadah dengan ukuran 15 cm x 100 cm dengan menggunakan papan kayu.

Jarak antara tiap wadah tersebut adalah sejauh 20 cm. Akan lebih baik jika wadah tersebut mudah untuk dipindahkan guna menyesuaikan kebutuhan jahe terhadap sinar matahari maupun air hujan.

Mempersiapkan zona penyangga dan tanaman pelindung

Zona penyangga adalah dibuatnya jarak antara tanaman yang Anda budidayakan secara organik dan tanaman yang Anda budidayakan dengan menggunakan bahan-bahan kimia.

Jarak ideal yang bisa Anda gunakan adalah sekitar 5-15 meter, namun dapat Anda sesuaikan dengan ukuran lahan Anda.

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan tanaman pelindung dengan kriteria memiliki daun yang lebat dan tinggi pada zona penyangga tersebut. Tujuannya adalah untuk mengurangi jumlah partikel-partikel kimia agrikultur yang ada di sekitar kultivar Anda.

Selain itu, tanaman pelindung juga dapat menyaring debu, hingga bahan-bahan kimia hasil pembuangan kendaraan bermotor, sehingga dapat meningkatkan kesehatan kultivar Anda.

Kriteria dari tanaman pelindung diantaranya adalah semipermeabel, yang mana Anda dapat melihat melewati tanaman tersebut, namun juga cukup rapat untuk menyaring partikel dan udara.

Selain itu, tanaman pelindung paling tidak 50% lebih tinggi dari jahe yang ingin Anda budidayakan.

Beberapa contoh tanaman pelindung yang dapat Anda gunakan adalah Casuarina, semak belukar (pohon teh), rumput tinggi, tanaman jagung atau Sorgum.

Menentukan bibit jahe yang tepat

Untuk membudidayakan jahe, Anda dapat menggunakan bagian bijinya, rimpang hingga kultur jaringan dari jahe dewasa. Kultur jaringan relatif lebih sulit, namun bisa menghasilkan kultivar yang berkualitas tinggi.

Jika Anda ingin menggunakan rimpang, maka Anda dapat membelinya dari toko bibit terdekat, maupun memotongnya sendiri dari perkebunan Anda apabila Anda memang telah membudidayakan jahe sebelumnya.

Anda dapat memilih rimpang tidak aktif yang memiliki berat 4-6 gram dan panjang berkisar antara 2-6 cm, 2-3 minggu sebelum Anda melakukan penanaman.

Penanaman bibit jahe

Rimpang yang telah dipilih Anda letakan di wadah yang telah Anda buat sebelumnya, lalu Anda hanya perlu menunggu selama beberapa hari hingga kalus tumbuh.

Jarak antara rimpang yang satu dengan rimpang yang lain adalah sekitar 12-16 cm dengan kedalaman rimpang mencapai 4-6 cm ke dalam tanah. Pastikan bahwa tunas pertumbuhan rimpang tersebut menghadap keatas.

Perawatan kultivar jahe

Anda dapat menambahkan pupuk organik, seperti ekstrak rumput laut, atau emulsi ikan setiap 6-8 minggu.

Untuk melindungi kultivar Anda dari hama, Anda perlu menjaga kebersihan lingkungan kultivar (menyingkirkan sarang nematoda) atau menambahkan pasir maupun kulit mulsa (mencegah hama siput). (Baca Juga : Hama dan Penyakit Tanaman Jahe)

Panen Jahe

Jahe yang telah dewasa harus segera dipanen karena apabila terlalu lama dibiarkan di tanah, maka akan kehilangan rasanya hingga membusuk.

Jahe membutuhkan waktu 8-10 bulan untuk mencapai tahap dewasa, namun Anda bisa mulai memanen jahe pada bulan ke-6 atau ketika daun pada kultivar jahe sudah mulai berubah menjadi kekuningan.

Itu dia cara mudah untuk melakukan budidaya jahe secara organik. Jika Anda tertarik, maka Anda harus menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Selamat mencoba.

Baca Juga : Cara Budidaya Tanaman Mangga

The Author

ilmudasar

Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *