Pengertian, Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

Pengertian Fosil : Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil – Anda pasti pernah mendengar tentang fosil, baik dari pelajaran sejarah maupun dari acara penelitian arkeologi. Namun, apakah Anda tau apa arti sebenarnya dari fosil?

Pengertian, Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

Pengertian, Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

Berikut merupakan pengertian, jenis dan proses terbentuknya fosil.

Pengertian fosil

Berdasarkan asal katanya, fosil berasal dari bahasa latin, yaitu Fossa yang berarti galian.

Baca Juga : Pengertian Peta

Fosil merupakan sisa, jejak atau cetakan dari manusia, hewan dan tumbuhan yang diawetkan secara alami dalam suatu endapan batuan sejak masa prasejarah atau masa geologis bertahun-tahun lalu.

Beberapa ciri-ciri umum fosil adalah merupakan sisa-sisa organisme, mengalami pengawetan secara ilmiah, pada umumnya memiliki bentuk yang padat atau kompak, serta memiliki umur lebih dari 12.000 tahun

Terdapat perbedaan antara fosil dan tulang biasa masa kini yang telah terkubur lama.

Pada umumnya, fosil lebih berat dari tulang biasa meskipun memiliki bentuk yang mirip dengan tulang binatang atau sisa tumbuhan.

Penyebab kenapa fosil lebih berat dari tulang biasa yang baru terkubur beberapa lama lalu adalah ketika proses fosilisasi, terdapat pergantian senyawa organik dalam tulang dengan mineral-mineral yang berasal dari batuan atau tanah tempat fosil tersebut terendapkan.

Selain itu, warna fosil umumnya lebih gelap dari tulang biasa karena telah terendapkan dalam waktu yang sangat lama.

Apabila fosil tersebut terendapkan di daerah sekitar sungai, maka akan memiliki warna yang sangat hitam serta bertekstur sangat keras.

Secara lebih lanjut, dapat dilakukan analisis kimia dengan menggunakan berbagai instrumen.

Apabila masih terdapat senyawa organik dalam tulang tersebut, maka kemungkinan tulang tersebut bukanlah fosil, melainkan hanya tulang yang baru terkubur beberapa lama.

Jika ingin mengetahui identitas dari fosil yang ditemukan, maka dapat dilakukan identifikasi fosil secara anatomis maupun taksonomis.

Secara anatomis, identifikasi dilakukan untuk mengetahui jenis spesimen dari fosil, sementara identifikasi secara taksonomis bertujuan untuk mengetahui jenis hewan atau tumbuhan dari fosil tersebut.

Tahap-tahap dari identifikasi fosil adalah menyiapkan fosil dan alat-alat yang dibutuhkan.

Setelahnya, dilakukan pengamatan anatomi fosil dengan membandingkannya terhadap model kerangka, hasil identifikasi sebelumnya dan hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui jenis fosil.

Hasil identifikasi dituliskan pada label, disertai dengan hasil pengukuran meliputi panjang, lebar dan tebal atau panjang dan diameter fosil untuk beberapa jenis fosil. Setelah itu, dialakukan identifikasi fosil berdasarkan tingkat taksonnya.

Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk identifikasi fosil adalah model kerangka dan fosil terdahulu, alat ukur berupa jangka sorong, alat tulis, serta label untuk menulis hasil identifikasi.

Jenis fosil

Terdapat berbagai jenis fosil. Berdasarkan wujudnya, fosil dibedakan menjadi tinggalan anatomis, yang mana terdiri dari satu tubuh utuh atau hanya sebagian saja.

Selain itu, ada juga tinggalan biogenik, yang mana terdiri dari kotoran atau telur dan artefak yang terdiri dari jejak, lubang atau sarang.

Berdasarkan proses pembentukannya, fosil dibedakan menjadi Original Preserved Fossil, yaitu fosil yang dalam bentuk aslinya, tidak mengalami perubahan, namun relatif sulit untuk ditemukan.

Selain itu, terdapat juga Altered Preserved Fossil, yaitu fosil yang bentuknya telah berubah, sehingga senyawa aslinya telah digantikan oleh senyawa kimia yang baru.

Terdapat 3 tahap dalam pembentukan Altered Preserved Fossil, yaitu desikasi (fosilisasi yang rapuh dan mudah patah serta terbentuk melalui proses pengeringan), karbonisasi (fosil yang mengalami perubahan materi organik menjadi arang, serta mengalami proses pemadatan bersama batuan yang menguburnya) dan petrifaksi (fosilisasi yang disertai dengan proses mineralisasi berupa perubahan senyawa organik oleh mineral).

Menurut ahli paleontologi, fosil dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fosil yang merupakan bagian dari organisme atau fosil yang berasal dari sisa-sisa aktifitas organisme tersebut.

Tipe fosil yang berasal dari organisme itu sendiri merupakan bagian dari organisme berupa tulang, cangkang atau daun yang diawetkan secara alami.

Sementara, fosil yang merupakan sisa aktifitas organisme atau trace fossil bisa berupa jejak dari organisme atau cetakan bagian dalam organisme, bukan bagian tubuh dari organisme itu sendiri.

Proses terbentuknya fosil

Fosilisasi merupakan proses terbentuknya fosil. Proses tersebut memakan waktu hingga ribuan atau jutaan tahun sejak zaman prasejarah maupun zaman sejarah.

Beberapa peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya fosilisasi, yaitu proses penggantian (replacement), yang mana merupakan penggantian bagian keras pada organisme, misalnya pada bagian cangkangnya oleh suatu senyawa lain.

Contohnya adalah cangkang yang terdiri dari CaCO3 (kalsium karbonat) dgantikan oleh senyawa silika.

Fosilisasi jenis lain adalah proses petrifaksi, yang mana terjadi penggantian bagian yang lunak dari tumbuhan dengan endapan mineral yang terlarut dalam air sedimen. Selain itu, terdapat juga proses karbonisasi.

Proses ini berupa terjatuhnya daun atau mineral tumbuhan ke rawa dan diubah menjadi cetakan karbon tanpa terjadinya perubahan bentuk asal maupun proses oksidasi.

Selain itu, ada juga proses pencetakan, yang mana terbentuk rongga pada sisa binatang atau tumbuhan terlarut berupa cetakan yang ukuran dan bentuknya serupa dengan benda aslinya.

Itu dia pengertian, jenis dan proses terbentuknya fosil. Cukup menarik, bukan?

Baca Juga : Pengertian Interpretasi Citra

The Author

ilmudasar

Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *