Pengertian Keragaman Somaklonal Pada Tanaman

Pengertian Keragaman Somaklonal Pada Tanaman – Keragaman atau variasi somaklonal adalah keragaman genetik yang dihasilkan melalui kultur jaringan sebagai hasil mutasi genetik.

Pengertian Keragaman Somaklonal Pada Tanaman

Pengertian Keragaman Somaklonal Pada Tanaman

Variasi somaklonal pertama kali ditemukan oleh Larkin dan Scowcorf pada tahun 1989 yang mendefinisikan keragaman somaklonal sebagai keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatic seperti sel daun, akar, batang, dan sel gamet.

Pada variasi somaklonal, keragaman timbul sebagai akibat adanya penggandaan dalam kromosom (fusi, endomitosis), perubahan jumlah kromosom (Tagging dan nondisjunction), perubahan struktur kromosom, perubahan gen, dan perubahan sitoplasma.

Variasi somaklonal yang terjadi pada tanaman seringkali merupakan sifat yang dapat diwariskan dan tidak diwariskan.

Baca Juga :

Variasi yang bersifat diwariskan, dikendalikan secara genetik, bersifat stabil dan dapat diturunkan secara seksual pada generasi berikutnya.

Namun, yang tidak dapat diwariskan dikendalikan secara epigenetic, dan biasanya akan hilang apabila diturunkan secara seksual.

Keragaman genetik pada kultur jaringan dapat dicapai melalui fase yang tidak berdiferensiasi, yaitu fase kalus dan sel bebas, yang relatif lebih panjang.

Untuk mencapai kestabilan genetik pada kultur jaringan, maka dapat dilakukan dengan menginduksi fase pertumbuhan tidak berdiferensiasi sesingkat mungkin.

Variasi somaklonal dalam kultur jaringan dapat terjadi sebagai akibat penggunaan zat pengatur tumbuh dan tingkat konsentrasi, lama fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang digunakan (sel protoplasma, kalus jaringan), serta media seleksi yang digunakan dalam kultur in vitro.

Umumnya, zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah auksin 2,4-D dan 2,4,5-T yang dapat menyebabkan terjadinya variasi somaklonal.

Faktor yang Mempengaruhi Variasi Somaklonal

Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi variasi somaklonal yaitu:

  • Komposisi zat kimia yang digunakan dalam media, seperti zat kimia yang digunakan untuk menginduksi variasi somaklonal seperti kolkisin, asenaften
  • Lamanya fase pertumbuhan kalus. Berulangnya subkultur dapat mengakibatkan terjadinya mutasi
  • Zat pengatur tumbuh yang digunakan. Zat pengatur tumbuh ini akan menginduksi terjadinya varasi somaklonal
  • Tipe kultur yang digunakan, baik kultur kalus, suspensi sel, atau kultur protoplas, atau bahkan jumlah perlakuan subkultur yang berulang. Variasi somaklonal pada nanas dengan perlakuan subkultur berulang pada kultur in vitro dan pengaruh ZPT BAP dan TDZ termasuk perubahan yang menetap.
  • Genotip induk (homozigot atau heterozigot) akan memungkinkan terjadinya abnormalitas benang kromosom
  • Perlakuan fisik lainnya dengan cara buatan, seperti radiasi sinar gamma, beta, alfa, tumor, dan lainnya.
  • Sumber eksplan. Keragaman pada eksplan dapat disebabkan adanya sel yang bermuatan atau adanya polisomik dari jaringan tertentu. Sebagai contoh: jika sumber eksplan yang digunakan adalah daun, daun telah tersusun dari berbagai jaringan, maka sumber selnya akan menjadi heterogen. Jika proses endomitosis terjadi, maka kemungkinan terjadi kelipatan ploidi yang besar.

Kelebihan Variasi Somaklonal

Berikut ini adalah beberapa variasi somaklonal apabila dibandingkan dengan teknik lainnya, yaitu:

  • Lebih murah apabila dibandingkan dengan pendekatan bioteknologi dengan hibridisasi somatic dan transformasi genetik
  • Sistem kultur jaringan mampu menggunakan lebih banyak spesies tanaman dibnadingkan dengan manipulasi dengan hibridisasi somatic dan transformasi genetik
  • Tidak diperlukan adanya identifikasi sifat berdasarkan sifat genetik dibandingkan dengan transformasi yang memerlukan identifikasi genetik untuk isolasi dan cloning gen.
  • Adanya varian noveltis telah banyak dihasilkan di antara somaklon yang dihasilkan variasi somaklonal.

Variasi somaklonal dapat merubah beberapa sifat tanaman, namun faktanya, sifat lainnya akan tetap menyerupai induknya.

Variasi somaklonal bermanfaat sebagai upaya peningkatan keragaman genetik demi mendapatkan sifat unggul dengan tetap mempertahankan sifat unggul lain. Hal ini disebabkan perubahan bentuk struktur susunan DNA.

Contoh Aplikasi Variasi Somaklonal

Teknik variasi somaklonal telah banyak diaplikasikan pada tanaman budidaya, seperti tebu yang resisten terhadap virus penyebab penyakit Fiji, tomat resisten terhadap Fusarium oxysporum dengan memperoleh berbagai variasi jumlah kromosom, pigmen daun dan buah, kentang dengan penggandaan kromosom, dan kedelai yang tahan lahan asam, kacang polong, anggur, jagung, asparagus, dan sorgum.

Penggolongan Variasi Somaklonal

Variasi somaklonal dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, yaitu:

  • Variasi yang terbentuk dalam jaringan tumbuhan. Lebih dari 90% tumbuhan angiospermae diiringi dengan perubahan langsung pada DNA dan nucleus. Timbul banyak tanaman dengan jaringan matang dan terdiferensiasi seperti korteks dan pembuluh lainnya, yang menunjukkan bahwa adanya variasi kromosom di dalam sel. Pada meristem apeks (tudung akar dan pucuk), sintesis DNA yang diikuti oleh kariokinesis dan sitokinesis lebih sering terjadi, pada umumnya kondisi selnya pada tingkat diploid yang seragam, namun derivate sel meristem tidak membelah secara mitosis normal, bahkan melalui duplikasi DNA dan endoreduplikasi.
  • Variasi yang dipengaruhi oleh faktor in vitro yaitu:
    • Media kultur
    • Pola pertumbuhan melalui regenerasi

Kalus embrionik memiliki kemungkinan sel dengan gen yang lebih stabil, dibandingkan dengan kalus yang melalui diferensiasi organ.

Baca Juga : Proses Pembentukan Embrio

  • Jangka waktu kultur dan frekuensi subkultur

Variasi kariotip dapat terjadi apabila umur kalus meningkat dan jumlah sub kultur bertambah

  • Jumlah ploidi dan genotip

Genotip merupakan faktor penting dalam hal. Pada frekuensi pertumbuhan, pelargonium akan berubah mengikuti genotip yang digunakan

  • Faktor fisik

Faktor fisik yang mempengaruhi adalah suhu.

  • Prosedur yang digunakan

Regenerasi protoplas mampu memberikan ratusan variasi yang lebih tinggi dibandingkan regenerasi menggunakan eksplan biasa.

Updated: —

The Author

ilmudasar

Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *