Sejarah dan Asal Mula Kesultanan Banten di Indonesia

Sejarah dan Asal Mula Kesultanan Banten di Indonesia – Kesultanan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang pernah berdiri di tanah Jawa, tepatnya di Tatar Pasundan, kini Provinsi Banten.

Sejarah dan Asal Mula Kesultanan Banten di Indonesia

Sejarah dan Asal Mula Kesultanan Banten di Indonesia

Kesultanan Banten berdiri pada tahun 1526, saat itu Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Sunda yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, ingin memperluas wilayahnya hingga ke pesisir barat Pulau Jawa, tujuannya adalah untuk menaklukan kawasan pelabuhan untuk digunakan sebagai pangkalan militer dan juga pusat perdagangan internasional.

Maka dari itu didirikan suatu benteng pertahanan di wilayah peisisr yang disebut dengan Surosowan pada tahun 1600 M.

Karena itulah pada awalnya Kesultanan Banten merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon.

Kesultanan Banten sendiri, setelah berpisah dari Kesultanan Cirebon, berhasil mempertahankan kejaaannya hingga 3 abad lamanya.

Pada awalnya, ayah dari Maulana Hasanuddin yaitu Sunan Gunung Jati berangkat ke daerah pesisir barat Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.

Sunan Gunung Jati kemudian menikahi putri dari Sang Surosowan ( anak dari Silihwangi) yaitu Nyai Kawung Anten.

Cara dakwah yang dilakukan oelh Sunan Gunung Jati berhasil menarik banyak warga Wahanten Pesisir ( tempat yang dikuasai oleh Sang Surosowan) untuk memeluk Islam, meski Sang Surosowan sendiri tidak memeluk Islam.

Toleransi antar umat meningkat drastis di wilayah tersebut. Hingga pada tahun 1479 Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon untuk menjadi pemimpin Kesultanan Cirebon.

Pada tahun 1511 Pangeran Sabrang Lor ( seorang panglima angkatan laut Kesultanan Demak) dan Ratu Ayu ( putri Sunan Gunung Jati) melakukan pernikahan yang menandkan terjadinya persekutuan antara Kesultanan Cirebon dengan Kesultanan Demak.

Hal tersebut ternyata membuat Raja Silihwangi menjadi waspada.Raja Silihwangi pun membuat kepekatan dengan Portugis pada tahun 1511.

Untuk mengimbangi dan mengantisipasi terjadinya monopoli, diperintahkanlah Maulana Hasanuddin untuk memperluas wilayah di bagian pesisir.

Pada tahun 1522, Maulana Hasanuddin tiba di Wahanten Pesisir dan membangun istana, berserta alun-alun, pasar, dan juga masjid agung.

Pada tahun 1524, di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati, pasukan gabungan dari Kesultanan Cirebon danKesultanan Demak, melakukan penaklukan pada wilayah Wahanten Girnag yang saat itu dikuasai oleh Arya Suranggana.

Pada tahun 1526, Arya Surajaya atau paman dari Maulana Hasanuddin menyerahkan wilayah Wahanten Pesisir kepada Kesultanan Cirebon, menandakan bersatunya wilayah Wahanten Pesisir dan Wahanten Girang, yang akhirnya dinamakan dengan Wahanten atau Banten, dengan pusat pemerintahannya pada Kasultanan Surosowan.

Pada tanggal 8 Oktober 1526, banten resmi menjadi salah satu provinsi dari Kesultanan Cirebon.

Menurut catatan sejarah Sunan Gunung jati adalah pendiri dan sultan pertama dari Cirebon.

Dan pada tahun 1552, Maulana Hasanuddin resmi diangkat dan dilantik menjadi Sultan Banten.

Banten menjadikan perdagangan sebagai penggerak utama perekonomiannya. Hal itu dilakukan dengan membangun pelabuhan sebagai pusat pedagangan dan juga perantara para pedagang untuk berniaga.

Selain itu banten juga memperluas wilayahnya dengan melakukan kerjasama dagang pada komoditi lada dengan Palembang pada tahun 1596. Hal ini juga dimaksudkan untuk menangkis dan mempersempit gerakan Portugis untuk memonopoli rempah-rempah.

Banten juga berhasil melakukan kerjasama internasional dengan negara luar seperti Inggris, Denmark, Tionghoa, Persia, India, Jepang, Cina, Filipina, Vietnam, dan Siam.

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa ( pada tahun 1651-1682) merupakan puncak kejayaan dari Kesultanan Banten.

Pada tahun 1680 terjadi perselisihan antar Sultan Ageng Tirtayasa dengna anaknya Sultan Haji, yang akhirnya dimanfaatkan oleh VOC untuk merebut kekuasaanKesultanan Banten.

Rencana tersebut berhasil, setelah memihak pada Sultan Haji dan berhasil membuat Sultan Ageng mundur ke pedalaman di daerah selatan. Pada tahun 1683 Sultan Ageng ditangkap dan ditahan Belanda.

Baca Juga :

Saat Sultan Haji berkuasa, VOC mendapat kekuasaan mutlak atas Lampung dan komoditi lada. Selain itu Sultan Haji juga diwajibkan untuk membayar sejumlah uang kepada VOC sebagai balasan atas bantuan mereka.

Setelah Sultan Haji meninggal, setiap sultan dari Banten haruslah mendapatkan persetujuan dari Belanda jika ingin diangkat dan dilantik. Inilah yang menandakan runtuhnya Kesultanan Banten.

The Author

ilmudasar

Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..