Pengertian Narkoba Adalah: Klasifikasi, Mekanisme Kerja, Efek, dan Dampak

Diposting pada

Pengertian Narkoba Adalah: Klasifikasi, Mekanisme Kerja, Efek, dan Dampak – Narkoba adalah obat adiktif yang akan mengurangi persepsi nyeri pada pengguna obat, dan bahkan dapat menginduksi euphoria (perasaan senang secara berlebihan dan secara tidak realistic).

Pengertian Narkoba Adalah: Klasifikasi, Mekanisme Kerja, Efek, dan Dampak
Pengertian Narkoba Adalah: Klasifikasi, Mekanisme Kerja, Efek, dan Dampak

Narkoba dalam Bahasa Inggris diperoleh dari Bahasa Yunani narkobaos, yang berarti mati rasa atau yang mematikan.

Meskipun istilah ini mengacu pada obat yang akan mematikan sensasi atau memproduksi stupor, yang biasanya diaplikasikan pada opioid, pada obat alami atau sintetis yang bekerja seperti morfin.

Klasifikasi Narkoba

Menurut UU No. 35 tahun 2009, narkoba dibagi menjadi tiga jenis golongan, yaitu sebagai berikut.

  • Golongan I, yaitu jenis narkoba yang digunakan secara umum dan dikenal masyarakat, antara lain ganja, sabu-sabu, kokain, opium, heroin
  • Golongan II, adalah jenis narkotika yang secara umum dikenal masyarakat antara lain morfin, pertidin
  • Golongan III, yaitu jenis narkoba yang secara umum dikenal masyarakat luas seperti kodein

Sesungguhnya, terdapat narkotika legal dan illegal. Berikut ini adalah beberapa contoh dari narkotika yang bersifat legal dan telah diresepkan oleh dokter, yaitu kodein, fentanil, hidrokodon, hidromorfon, meperidine, metadon, morfin, dan tramadol.

Selain itu, narkoba ilegal yang paling umum digunakan adalah heroin, opium, dan berbagai obat yang telah masuk pada daftar di atas tanpa rekomendasi dokter.

Mekanisme Kerja Narkoba

Sistem saraf pusat pada manusia dan mamalia lain mengandung 5 tipe protein reseptor opioid yang berbeda, yang terletak pada otak, sumsum tulang belakang, dan saluran pencernaan.

Saat seseorang mengonsumsi obat opioid, maka obat akan terkait pada reseptor opioid pada otak dan sumsum tulang belakang dan menurunkan persepsi rasa nyeri.

Narkoba sesungguhnya tidak mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri. Beberapa reseptor opioid (yang dikenal sebagai reseptor mu dan sigma) mempengaruhi persepsi seseorang terhadap rasa senang.

Saat narkoba menstimulasi protein reseptor, orang akan mengalami sensasi euforia yang berlebihan. Laju absorpsi narkoba bergantung pada metode administrasi yang akan digunakan, narkoba yang disuntikkan secara intravena akan mencapai puncaknya secara efektif dalam waktu 10 menit, sementara itu narkoba yang digunakan secara oral akan membutuhkan waktu sekitar setengah hingga satu jam, dan patch yang ditempelkan pada kulit akan membutuhkan waktu 2 hingga 4 jam.

Penggunaan Narkoba Secara Umum

Narkoba memiliki beberapa manfaat yaitu,

  • Analgesik

Dokter seringkali meresepkan obat kodein dan propoksifen oral (baik secara individu atau dikombinasikan dengan aspirin) sebagai pengontrol rasa nyeri setelah pembedahan oral, digunakan untuk kram akibat menstruasi, dan pelega rasa nyeri secara sementara pasca pembedahan pada pasien rawat jalan.

Narkoba yang disuntikkan secara intravena mungkin dapat diadministrasikan selama beberapa hari setelah pembedahan mayor untuk melegakan rasa tidak nyaman pada pasien.

Metode administrasi opioid pasca pembedahan mencakup bentuk injeksi morfin sulfat yang sustained release dan sistem transdermal untuk membebaskan fentanil saat pasien menyuntik.

Umumnya, narkoba yang disuntikkan secara intravena digunakan untuk terapi paliatif dan melegakan nyeri pada pasien yang terdiagnosis dengan kanker stadium akhir.

  • Antitusif

Antitusif adalah obat yang digunakan untuk mengontrol gejala batuk. Kodein seringkali efektif dalam melegakan batuk yang parah dan telah menjadi obat yang umum diresepkan sebagai campuran obat batuk.

  • Antidiare

Paregoric, campuran bahan cairan yang mengandung serbuk opium, minyak anisa, dan gliserin, terkadang diresepkan untuk pengobatan diare parah.

Opium pada paregoric bekerja untuk mengontrol diare karena memperlambat kontraksi ritmik dari usus yang akan memindahkan makanan melalui saluran pencernaan secara mudah.

Lomotil, obat antidiare yang lain mengandung opioid sintetik yang dikenal sebagai difenoksilat, dan seringkali direkomendasikan untuk mengobati pasien kanker degnan diare yang diakibatkan oleh terapi radiasi.

Efek Narkoba

Efek psikologis yang timbul karena narkoba adalah rasa tenang, berkurangnya kekhawatiran, halusinasi atau psikosis, perasaan bahwa pengguna tidak akan mampu melewati hari-harinya tanpa narkoba.

Narkoba benar-benar adiktif karena berbagai efek psikologis yang ditimbulkannya, dimana efek tersebut dipandang positif oleh penggunanya.

Umumnya, para pengguna akan sangat mudah mentoleransi dosis narkoba, sehingga pada penggunaan selanjutnya, akan dibutuhkan efek yang diharapkan. Semakin tinggi dosis dan semakin lama penggunaannya, maka risiko yang timbul akan semakin besar.

Selain itu, efek narkoba terhadap tubuh adalah sedasi atau keadaan mengantuk, pergerakan yang melambat, reaksi yang semakin lama, dan kurangnya koordinasi, mual dan muntah, konstipasi, berkurangnya nafsu makan, dan gangguan pada perut, berkurangnya rasa nyeri, gatal dan iritasi kulit, mulut kering dan dehidrasi, kesulitan bernapas, detak jantung yang berkurang, infeksi dan penyakit lain yang disebabkan penggunaan jarum bersamaan, seperti HIV dan hepatitis.

Efek Samping Narkoba

Kecanduan narkoba seringkali akan mengakibatkan efek samping sebagai berikut.

  • Konstipasi
  • Keadaan mengantuk dan sedasi
  • Withdrawal symptoms setelah penggunaan jangka panjang (menangis, berkeringat, diare, muntah, pilek, kehilangan nafsu makan, ruam panas atau dingin)
  • Euforia, yaitu perasaan senang secara intens. Timbulnya euforia sangat ekstrim pada penggunaan narkoba secara injeksi
  • Ketergantungan fisik
  • Menurunnya respirasi
  • Rasa nyeri pada perut, seperti mual dan muntah
Gambar Gravatar
Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *