Arti Ambigu Adalah : Pengertian, Jenis, Contoh dan Maknanya

Diposting pada

Arti Ambigu Adalah : Pengertian, Jenis, Contoh dan Makna Ambigu – Ilmudasar.idPernahkah Anda menjumpai seseorang yang sering kali berbicara dengan makna tidak jelas, bukan jawaban tidak dan juga bukan jawaban makna.

Arti Ambigu Adalah : Pengertian, Jenis, Contoh dan Makna Ambigu
Arti Ambigu Adalah : Pengertian, Jenis, Contoh dan Makna Ambigu

Hal ini tentunya sering kali membingungkan bagi lawan bicaranya bukan. Kondisi semacam ini dikenal juga sebagai ambigu, pastinya sudah banyak sekali yang sering mendengar istilah tersebut bukan. Baik itu pada bahan bacaan atau menjumpainya secara langsung di dunia nyata.

Apalagi semakin kesini ada banyak sekali orang-orang yang ambigu, bahkan sulit untuk ditafsirkan maksud perkataan mereka.

Pengertian ambigu

Ambigu atau yang dikenal sebagai ambiguous ini sebenarnya adalah sebuah kondisi yang tidak pasti atau tidak jelas untuk seseorang, sehingga menimbulkan multitafsir.

Ada pula yang mengatakan bahwa sebenarnya ambigu tersebut suatu suku kata, kemudian juga kalimat maupun frasa yang mengandung makna ganda di dalamnya. Terdapat sebuah ketidakjelasan atau keraguan bagi orang lain.

Kalimat tersebut menjadi ambigu jika seandainya struktur kalimat tidak tepat, intonasi maupun pengunaan kata yang sifatnya adalah polisemi, jadi menimbulkan makna ganda.

Keambiguan sendiri umumnya terjadi pada sebuah kata, frasa maupun kalimat. Sehingga untuk menghindari adanya makna ambigu tersebut maka harus memilih kata yang tepat sebelum diucapkan, begitu juga dengan tanda baca, intonasi hingga pemilihan kata yang sesuai, sehingga nantinya kalimat dapat dimaknai secara tepat, guna mencegah ambigu.

Adapun juga pengertian ambigu menurut Crane, Yeager dan Whitman, yaitu suatu hal yang memiliki lebih dari satu makna atau interpretasi normal, sehingga seseorang bisa memaknai sebuah kata atau kalimat tersebut lebih dari satu

Menurut kamus besar bahasa Indonesia ambigu ini sendiri adalah suatu hal atau kalimat yang mempunyai makna atau arti ganda, sehingga sama sekali tidak dapat dipahami oleh orang lain.

Faktor penyebabnya sendiri sangatlah beragam, bisa disebabkan karena struktur kalimat, kemudian juga intonasinya yang kurang tepat hingga sifatnya yang polisemi.

Jika dilihat dari segi etimologi, istilah ambigu ini berasal dari bahasa latin yaitu ‘ ambiguus’ yang artinya adalah ‘ bergerak dari satu sisi ke sisi yang tidak pasti’ atau juga ‘ keadaan yang meragukan’ ambiguus ini berasal dari kata ‘ ambigere’ yang memiliki makna ‘ pergi ke tempat yang belum pasti’. ‘berjalan tanpa arah’, ‘keragu-raguan’. Ambigere ini adalah penggabungan antara dua kata, yaitu ‘ambi’ yang artinya adalah kira-kira dan juga ‘agere’ yang artinya mendorong atau bergerak.

Dalam perkembangannya sendiri, sebenarnya istilah ambigu ini digunakan dalam berbagai macam situasi, namun yang paling sering didengar mungkin adalah ‘kalimat ambigu’ kalimat yang memiliki makna ganda ini memang sering kali membuat orang yang mendengar atau membacanya menjadi bingung bagaimana harus memaknai, karena bisa jadi maknanya sendiri tidak hanya ada 2, melainkan sampai 3 bahkan lebih dari itu

Jenis-jenis ambiguitas

Berikut ini diantaranya beberapa jenis kalimat ambigu yang harus diketahui:

1). Ambiguitas fonetik

jenis ambigu yang satu ini disebabkan karena persamaan bunyi sebuah kata. Sehingga hal ini menyebabkan terjadinya pemaknaan di kehidupan sehari-hari, tentunya karena apa yang diucapkan tersebut hampir mirip dengan kata yang lainnya.

contohnya adalah ‘Ira datang ke rumah memberi tahu’. ‘tahu’ ini sendiri pada dasarnya dapat dimaknai sebagai makanan, ataupun juga memberi sebuah informasi. Sehingga terjadi pemaknaan ganda di dalam kalimat tersebut.

2). Ambiguitas gramatikal

sedangkan untuk ambigu yang satu ini terbentuk dikarenakan ketatabahasaan, namun sebenarnya dapat hilang ketika sudah masuk dalam contoh atau konteks kalimat yang lengkap dan juga jelas.

Contohnya sendiri adalah ‘orang tua’ yang dimaksud sebagai orang tua disini ada 2, yaitu orang tua yang artinya ayah ibu, ataupun juga orang tua yang berarti orang yang usia sudah lanjut.

Makna ganda tersebut akan hilang jika seandainya kalimat dilengkapi. Misalnya adalah ‘ Orang tua Ayu bekerja sebagai wirausaha’ berarti yang dimaksudkan adalah ibu dan juga ayah Ayu adalah seorang wirausaha. Namun bisa juga ‘orang tua itu bekerja seharian sambil mengayuh sepeda’ yang artinya orang sudah lanjut usia.

Baca Juga : Pengertian Wirausaha

3). Ambiguitas leksikal

Ambiutitas leksikal ini bisa terjadi karena faktor dari kata itu sendiri, kata tersebut memang memiliki lebih dari satu makna, tergantung dari pemakaiannya sendiri. Contohnya adalah ‘menggali’.

  • Pak Amin sedang menggali tanah untuk menanam jambu di halaman belakang rumahnya.
  • Polisi sedang menggali informasi guna penyelidikan lebih lanjut.

Dua kata yang sama namun memberikan makna yang berbeda, ‘menggali’ pada kalimat pertama memiliki makna membuat lubang di tanah.

Namun berbeda dengan ‘menggali pada kalimat kedua yang artinya justru mencari informasi lebih dalam atau memperbanyak informasi.

Sehingga pada dasarnya dalam beberapa konteks ini ambigu memang dapat dihilangkan dengan mudah, diantaranya adalah dengan membuat kalimat secara lebih jelas, atau dengan menanyakan informasinya secara lebih lengkap. Sehingga tidak akan muncul pemaknaan ganda terhadap apa yang diucapkan tersebut.

Faktor penyebab ambiguitas

Lalu sebenarnya apa saja faktor yang bisa menyebabkan terjadinya ambigu ini? berikut yang harus diketahui:

1). Faktor morfologi

Faktor ini disebabkan oleh pembentukan kata itu sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya pemaknaan ganda. Berikut ini contohnya:

  • Susi sedang masuk angin sehingga badannya menggigil semalaman.
  • Siang ini Susi membuka jendela lebar-lebar sehingga masuk angin kedalam kamarnya, terasa sepoi-sepoi.

Meskipun sama-sama ‘masuk angin’ namun makna diantara keduanya berbeda, pada contoh pertama ‘masuk angin yang dimaksud adalah terkena masalah kesehatan yang menyebabkan tubuh menjadi menggigil.

Sedangkan untuk kalimat kedua memiliki makna angin yang masuk kedalam rumah dan menyebabkan udara menjadi sejuk. Contoh di atas sebenarnya menjelaskan bahwa ambiguitas ini disebabkan oleh pembentukan kalimat yang berbeda.

2). Susunan kata

Ambiuitas juga bisa terjadi disebabkan oleh sintaksis atau susunan kata, contohnya adalah:

  • Susi adalah sosok yang keras kepala sehingga sangat sulit untuk dinasehati.
  • Susi memiliki kepala keras seperti batu, bahkan bisa digunakan untuk memecahkan balok es hanya dengan sekali membenturkannya.

Dari dua contoh di atas yang berbeda hanyalah posisi kata, antara ‘keras kepala’ dan juga ‘ kepala keras’.

Keras kepala ini sebenarnya adalah makna untuk mereka yang sulit sekali mendengarkan nasehat atau omongan orang lain. Sedangkan berbeda jika seandainya struktur kata tersebut dibalik menjadi ‘kepala keras’ yang asrinya kepala memang benar-benar keras. Sintaksis memang sering kali menyebabkan terjadinya pemaknaan ganda atau ambigu.

3). Faktor struktural

Faktor ini disebabkan karena perbedaan struktur yang ada dalam sebuah kalimat. Contohnya:

  • Fika, adik Nanik, sedang dirawat di RS Saiful Anwar.
  • Fika, adik, Nanik, sedang dirawat di RS Saiful Anwar.
  • Fika! Adik Nanik sedang dirawat di RS Saiful Anwar.

Apa yang membedakan antara ketiganya? Sudah pasti terletak pada struktur kata tersebut. Dimana untuk contoh pertama memiliki makna, bahwa Fika sebagai adik nanik yang sedang sakit dan dirawat di RS.

Sedangkan pada contoh kedua ketiganya, yaitu Fika, adik dan juga Nanik sedang dirawat di RS.

Pada contoh ketika adik Nanik lah yang tengah dirawat di RS Saiful Anwar, sehingga memang pada dasarnya berbeda struktur kata akan menyebabkan makna yang ambigu pada sebuah kalimat, sehingga harus ditulis dengan tanda baca yang benar.

Pada penjelasan di atas memang dapat dilihat sebenarnya ada 3 faktor yang memang bisa menyebabkan terjadinya ambiguitas ini, mulai dari kata itu sendiri, kemudian dari susunan kata atau sintaksisnya dan yang terakhir dari segi struktural.

Itulah pentingnya untuk menulis dengan benar, sehingga nantinya tidak menimbulkan pemaknaan ganda kepada pembacanya.

Untuk lebih memahami mengenai kalimat ambigu ini dan bagaimana cara untuk mengatasinya, maka bisa melihat contoh-contoh berikut ini:

1). “Gedung sekolah yang baru diresmikan oleh Ibu Walikota” keambiguan di atas sebenarnya terletak pada ‘ gedung sekolah yang baru’, untuk membuat kalimat tersebut tidak ambigu, maka bisa mengubahnya menjadi “ Gedung sekolah yang baru itu diresmikan oleh Ibu Walikota” maka maknanya jelas, bahwa ada sebuah gedung sekolah baru dan telah diresmikan oleh Ibu Walikota.

2). “Rina membaca buku sejarah yang baru”, ini bisa diperbaiki dari segi strukturalnya, sehingga makna yang diungkapkan bisa jelas. Seperti:

  • Rina membaca buku sejarak puisi yang baru saja dibelinya, berari bukunya yang baru.
  • Rina membaca tentang buku sejarah puisi yang baru, disini memiliki makna sejarahnya yang memang baru
  • Rina membaca buku sejarah tentang puisi yang baru, makna baru ada pada pusinya.

3) “Anak konglomerat yang pantai itu kuliah di UI”

  • Anak konglomerat yang pantai tersebut kuliah di UI, disini memiliki makna bahwa anaknya yang pandai.
  • Anak dari konglomerat yang pandai tersebut kuliah di UI, sedangkan untuk kalimat kedua ini memiliki makna bahwa yang pandai adalah kobglomeratnya.

4). “Anak laki-laki paman yang berbaju hitam tersebut berasal dari Bali”

  • Anak laki-laki paman yang berbaju hitam itu berasal dari Bali. Ini memiliki makna bahwa anak laki-laki nya yang berbaju hitam.
  • Anak laki-laki dari paman yang berbaju hitam tersebut berasal dari Bali. Sedangkan untuk kalimat kedua ini menunjukkan bahwa yang berbaju hitam adalah pamannya.

5). “Teman Lina yang gemuk itu tidak masuk sekolah kemarin”

  • Teman Lina yang gemuk itu tidak masuk sekolah kemarin, memiliki makna teman Lina yang badannya gemuk.
  • Lina yang gemuk itu temannya tidak masuk sekolah kemarin, pada susunan kalimat yang kedua ini menunjukkan bahwa yang gemuk adalah Lina itu sendiri.

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah agar penulisan kalimat tidak sampai menjadi ambigu, diantaranya adalah:

1). Buatlah tata kalimat atau susunan yang benar

ini penting karena bagaimanapun hanya dengan mengubah satu saja penempatan kalimat bisa memberikan makna yang berbeda pada mereka yang membaca atau mendengarnya. Untuk itu harus memperhatikan SPOK sebelum menuliskan kalimat.

2). Buatlah kalimat secara lengkap

Cara lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan kalimat atau mengucapkan sesuatu secara lengkap, mengingat salah potong kalimat sering kali menyebabkan orang yang mendengarnya menjadi ambigu atau dapat saja memaknai sebuah kalimat tersebut ganda atau berbeda.

3). Perhatikan juga penggunaan tanda baca

tanda baca ini juga memiliki peran penting karena sering kali menyebabkan terjadinya pemaknaan ganda, misalnya adalah dengan penempatan koma (,) atau penempatan titik (.) yang kurang tepat, pahami terlebih dahulu apa konteks yang ingin disampaikan.

4). Mencari alternatif sinonim atau persamaan kata yang lainnya

Sering kali memang satu kata memiliki makna yang berbeda, hal ini bisa dihindari dengan mencari sinonim atau persamaan kata dengan makna yang sama dengan apa yang ingin diucapkan tersebut, sehingga mempermudah pembaca untuk memahaminya.

5). Tekankan dengan jelas apa yang ingin disampaikan

untuk penyampaian informasi secara langsung, memang fenotik ini sering kali menyebabkan pendengarnya menjadi ambigu, jadi berikan penekanan secara jelas apa yang dimaksudkan, agar nantinya tidak salah interpretasi.

Lalu bagaimana caranya untuk memperbaiki kalimat ambigu tersebut, jangan khawatir karena pada dasarnya kalimat ambigu ini tetap dapat diperbaiki, apalagi untuk menjawab soal-soal sekolah, diantaranya adalah:

1). Baca secara lengkap terlebih dahulu

untuk mendapatkan kalimat yang efektif, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan membaca kalimat tersebut, jangan dibaca setengah-setengah, sehingga akan tahu apa makna yang dimaksudkan di dalamnya.

Apalagi untuk soal cerita, biasanya memang ada bacaan yang cukup panjang, sehingga membuat pembaca tidak menyelesaikan pembacaan hingga benar-benar lengkap atau hanya sepotong-potong saja.

2). Perhatikan peletakan tanda bacanya

ini juga sangat membantu dalam menyelesaikan soal kalimat ambigu, yaitu dengan melihat dimana meletakkan tanda bacanya. Ini juga penting, karena memang pemotongan kalimat ini menunjukkan makna yang terkandung di dalamnya.

Pemenggalan yang tidak tepat sering kali menyebabkan ambiguitas. Jadi salah satu cara mengenalinya juga bisa lewat tanda baca yang digunakan.

3). Memahami juga penggunaan makna konotatif, denotatif, leksikal, kias hingga lugas yang ada di dalam bahasa Indonesia.

Pastinya bagi yang sudah pernah belajar mengenai bahasa Indonesia sering kali mendengar istilah-istilah semacam ini.

Bahwa kata atau kalimat yang disusun tak jarang diantaranya yang tidak memakai makna sebenarnya, seperti untuk memperindah tata bahasanya atau dengan maksud sastra.

Maka sebelumnya penting bagi Anda untuk mengenali terlebih dahulu arti dari makna-makna tersebut, berikut ini diantaranya:

  • Makna denotatif, disebut juga sebagai makna yang sebenarnya, umumnya hal ini digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya adalah faktual, makna denotatif ini juga disebut sebagai makna lugas.
  • Makna konotatif, ini adalah makna yang bukan makna sebenarnya, biasanya digunakan dalam konteks sindiran secara halus.
  • Makna leksikal, kemudian juga ada makna leksikal, sifatnya adalah tetap, itulah mengapa ia sering kali dikenal sebagai makna sesuai dengan kamus.
  • Makna gramatikal, jenis yang lainya adalah makna gramatikal, makna ini sifatnya adalah berubah-ubah sesuai dengan konteks pemakaiannya. Umumnya kata-kata yang sudah mengalami proses gramatikalisasi baik itu dengan adanya pengimbuhan, pemajemukan maupun dengan adanya pengulangan.
  • Makna lugas, ini adalah makna yang sesungguhnya, hampir sama dengan makna denotatif.
  • Makna kias, makna yang bukan makna sebenarnya, biasanya juga akan digunakan untuk sindiran sehingga mirip dengan makna konotatif.

Dengan mengenal pemaknaan ini nantinya juga akan semakin mudah dalam mengenali kalimat yang ambigu atau mengandung makna ganda.

Ambiguitas ini pada dasarnya memang tidak hanya dijumpai dalam sebuah kalimat saja, bahkan dalam kehidupan sehari-hari sekalipun ada orang dengan kecenderungan mengatakan sesuatu yang sifatnya ambigu, sehingga agak membingungkan bagi lawan bicaranya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *