Pengertian dan Dampak Golongan Putih (Golput) Dalam Pilkada

Diposting pada

Pengertian Golput : Dampak Golongan Putih (Golput) Dalam Pilkada – Ketika memasuki masa pemilu atau pilkada, Anda akan sering mendengar ucapan “jangan golput”.

Pengertian dan Dampak Golongan Putih (Golput) Dalam Pilkada
Pengertian dan Dampak Golongan Putih (Golput) Dalam Pilkada

Pilihlah calon pemimpin yang visi misinya sesuai dengan aspirasi Anda, lalu datanglah ke tempat pemungutan suara untuk menentukan pilihan Anda.

Meskipun sering mendengar istilah tersebut, apakah Anda tau apa sebenarnya arti Golput?

Lalu, darimana kata tersebut berasal dan sejak kapan digunakan?

Selain itu, apa dampak yang bisa timbul dari tindakan golput tersebut? Apakah benar-benar seburuk yang banyak orang katakan

Pengertian Golongan Putih (Golput)

Golongan Putih atau Golput merupakan suatu tindakan perlawanan terhadap kondisi politik di suatu negara karena perasaan kecewa terhadap sistem penyelenggaraan negara tersebut.

Perlawanan ini ditunjukkan dengan tidak memilih badan legislatif atau presiden.

Secara umum, ketika seseorang melakukan golput, maka individu tersebut tidak mengikuti pemilu yang diadakan di suatu negara atau mengikuti pemilu, namun merusak surat suara.

Ketidakikutsertaan dalam pemilu tersebut bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari tidak tercantum di daftar pemilu tetap, adanya kendala administasi ketika memilih dari tempat yang berbeda domisili, kurangnya kesadaran politik hingga adanya tekanan dari pihak tertentu untuk tidak melakukan pemilihan.

Sementara itu, tindakan golput sendiri tidak dianggap melanggar peraturan negara.

Hal ini karena keputusan untuk tidak memilih sekalipun adalah sebuah pilihan.

Namun, apabila ada oknum yang mengajak orang lain untuk melakukan golput melalui pemaksaan baik, fisik, psikis maupun finansial, maka terdapat hukuman yang akan menimpa orang tersebut sesuai dengan UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif Pasal 157, 283, 291 dan 308.

Lalu, sejak kapan istilah golput ini muncul? Menjelang Pemilu tahun 1971, Imam Waluyo mencetuskan istilah golput ini untuk melawan ketidakadilan pada pemerintahan masa Orde Baru.

Sementara itu, cendekiawan seperti Julius Usman, Imam Walujo, Arief Budiman, Asmara Nababan, dan Husin Umar juga mendeklarasikan pernyataan serupa untuk datang ke pemilu, namun mencoblos bagian kertas suara yang putih.

Dampak Golongan Putih (Golput)

Apabila Anda melakukan Golput ketika pemilu atau pilkada, maka ada beberapa dampak yang akan terjadi pada negara, yaitu diantaranya :

  • Menurunnya dukungan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah

Indonesia sebagai negara demokrasi memiliki ciri khas, yaitu pemimpin negara dipilih dari, untuk, dan oleh rakyat Indonesia.

Hasil dari pemilihan ini adalah seorang pemimpin yang mampu menyalurkan aspirasi masyarakat melalui program-program yang ia jalankan.

Namun, apabila tindakan golongan putih mendominasi masyarakat Indonesia, maka akan banyak masyarakat yang tidak mendukung keberjalanan sebuah progam karena menganggap pemimpin negara bukanlah seseorang yang mereka pilih.

  • Terjadinya sabotase atas program-program pemerintah

Beberapa pihak yang melakukan golput menganggap dirinya bukanlah bagian dari orang-orang yang setuju terhadap program yang dicetuskan oleh pemerintah.

Pada awalnya, bentuk pertidaksetujuan ini mungkin hanya diungkapkan dengan tidak mengikuti program-program tersebut.

Namun, mungkin saja tindakan ini bisa berkembang hingga dilakukannya sabotase terhadap program pembangunan infrastruktur, kebijakan ekonomi dan sebagainya.

  • Terbentuknya kelompok-kelompok anti pemerintah

Secara lebih lanjut, karena sekelompok orang yang melakukan tindakan golput ini tidak merasa berada dalam sistem politik yang ada, maka mereka mungkin membentuk kelompok yang melawan pemerintah dengan cara yang anarkis dan justru merugikan masyarakat.

  • Mendorong masyarakat lain untuk ikut melakukan golput

Meskipun tidak melalui paksaan, apabila di suatu komunitas, mayoritas anggotanya melakukan golput, maka ada kemungkinan perilaku ini juga bisa memengaruhi anggota komunitas yang lain untuk ikut melakukan golput.

Apabila hal ini dibiarkan, maka sistem demokrasi bisa hancur karena tidak adanya partisipasi aktif masyarakat untuk terlibat dalam pemerintahan melalui penggunaan surat suara untuk memilih wakil negara yang paling baik.

  • Rentannya provokasi dari kelompok tertentu

Ketika masyarakat menggunakan surat suaranya, mereka menyadari siapa yang mereka pilih dan akan berusaha untuk mendukung pilihan mereka.

Sebaliknya, apabila seseorang melakukan golput, maka ia tidak memiliki kepercayaan atau loyalitas terhadap pemimpin hasil pemilu.

Ketika hal ini terjadi, maka provokasi oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab untuk menyabotase pemerintahan juga akan lebih mudah memengaruhi mereka.

  • Menciptakan wakil negara yang jujur, aspiratif, dan menyuarakan rakyatnya

Dalam hal ini, apabila partai politik yang mengajukan diri sebagai calon badan legislatif maupun presiden atau wakil presiden memiliki sikap koruptif dan manipulatif, maka masyarakat memutuskan untuk tidak menggunakan suaranya.

Baca Juga :

Tindakan ini juga bisa dianggap sebagai perlawanan diam yang menyatakan bahwa rakyat tidak bisa menerima wakil negara yang tidak sesuai dengan visi dan harapan mereka.

Itu dia pengertian dan dampak golongan putih yang terjadi dalam pilkada.

Golput pada umumnya dianggap sebagai tindakan yang negatif, namun apabila Anda telah memikirkannya baik-baik dan mencari informasi mengenai calon pemimpin Anda yang memang kenyataannya tidak sesuai dengan aspirasi Anda, maka golput juga bisa menjadi sebuah pilihan.

Gambar Gravatar
Semoga dengan adanya blog ilmudasar.id mempermudah siapapun dalam mendapatkan info yang cepat dan akurat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *